SAREKAT ISLAM GERAKAN RATU ADIL?
Sarekat Islam (SI) adalah salah satu perkumpulan emansipasi yang didirikan pada periode 1900-1915. Sejauh manakah SI berbeda dengan perkumpulan-perkumpulan yang lain? Ia tidak berbeda dalam tujuan pokok , yaitu emansipasi golongan sendiri, tetapi berbeda dalam hal berikut; pertama SI mencapai perkembangan yang hebat yang tidak terimbangi oleh organisasi manapun, kedua SI menyolok karena memiliki keluasan dalam bidang kegiatannya.
Sudah sejak beberapa waktu di Surakarta terdapat suatu perkumpulan rahasia Jawa-Cina yang bernama Kong Sing. Anggotanya terdiri dari pengusaha terkemuka baik Cina maupun Jawa. Di dalamnya termasuk pula Samanhoedi (seorang pengusaha batik di kampong Lawean, Solo). Timbul cita-cita emansipasi di kalangan orang Cina mengakibatkan sikap orang-orang Cina berubah dalam tahun-tahun sekitar 1911. Demikian pula dalam tubuh Kong Sing terjadi kerenggangan antara anggota-anggota Cina dan Jawa. Hal ini mungkin sekali meledak karena peristiwa-peristiwa di Surabaya pada bulan Februari 1912, yakni kerusuhan dalam penduduk golongan Cina. Ketika bentrokan dengan polisi, seorang Cina terbunuh dan beberapa orang lainnya luka. Sebagai akibatnya di Surabaya terjadi pemogokan besar perdagangan orang Cina yang melumpuhkan kehidupan ekonomi. Selain hal itu kemungkinan orang-orang Jawa telah lebih dulu keluar dari perkumpulan ini dan mendirikan perkumpulan sendiri yang bernama Rekso Rumekso. Dari perkumpulan inilah akhirnya lahir Sarekat Islam (SI) dengan H. Samanhoedi sebagai pimpinannya.
Gerakan emansipasi SI telah menyebar hingga di luar Surakarta. Pada bulan Mei, empat wakil pengurus SI di Solo berangkat ke Surabaya untuk mengadakan propaganda bagi perkumpulan yang baru ini. Salah seorang yang mula-mula sekali mereka hubungi adalah Hasan Ali Soerati, seorang keturunan keluarga saudagar Islam kaya yang berasal dari India. Soerati adalah ketua perkumpulan Taman Manikem (manikam;permata, taman;kebun). Di gedung perkumpulan ini diselenggarakan pertemuan. Anggota-anggota SI dari Surakarta menguraikan tujuan perkumpulan mereka. Pada kesempatan ini orang-orang Solo juga berkenalan dengan Tjokroaminoto yang hadir sebagai ketua perkumpulan panti Harsoyo. Sehari kemudian dilantiklah Soerati dan Tjokroaminoto sebagai anggota baru SI. Gerakan ini meluas pula ke tempat-tempat lain di Jawa, selain dari Surabaya. Pada bulan September, berdasarkan akta notaris, ditetapkan anggaran dasar baru SI oleh Tjokroaminoto, serta dimajukannya permohonan resmi untuk mendapatkan pengakuan badan hukum bagi perkumpulan baru ini.
Pada 26 Januari 1913, di taman kota Surabaya diselenggarakan kongres pertama SI. Pada malam menjelang pertemuan ini, H. Samanhoedi sebagai pendiri perkumpulan ini disambut secara besar-besaran. Kongres ini dihadiri delapan sampai sepuluh ribu orang dan dipimpin langsung oleh Tjokroaminoto. Pada 23 Maret, SI mengadakan kongres umum yang kedua di Surakarta. Pertemuan diselenggarakan di taman istana Susuhunan dan malam menjelang kongres dipilih pengurus besar yang selanjutnya bernama Centraal Comite dengan H. Samanhoedi tetap terpilih sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakilnya. Pada kongres kedua inipun dihadiri oleh sejumlah besar peminat yang ditaksir tujuh ribu sampai dua puluh ribu orang. Sesudah kongres yang diadakan di kedua tempat tersebut, SI berkembang semakin pesat.
Kongres berikutnya tahun 1914 dilangsungkan di Yogyakarta dari tanggal 18 sampai 20 April. Tujuan utama pertemuan adalah menetapkan anggaran dasar dan memilih Centraal Comite yang baru. Pemilihan memberi kemenangan definitif bagi Tjokroaminoto atas Samanhoedi, Goenawan menjadi wakil ketua. Pergantian kekuasaan ini berlangsung bukan tanpa pertarungan. Samanhoedi sebagai “bapak” SI terpaksa menelan pil pahit dengan hanya diangkat menjadi ketua kehormatan. Sesudah pemilihan ia tidak pernah lagi menghadiri kongres selanjutnya. Perselisihan antara para pengikut Tjokroaminoto dan para pengikut Samanhoedi kemudian dilanjutkan dalam pers. Meskipun dalam keadaan yang demikian, gerakan ini bertambah luas bahkan juga tersebar di seluruh Sumatera dan Kalimantan.
SI sangat aktif dan menunjukkan sifat yang luar biasa dinamis. Kegiatan SI yang praktis dapat dibagi dalam kategori berikut. Pertama kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kedudukan para anggota, seperti dibentuknya toko-toko koperasi dan usaha-usaha lain, mendirikan sekolah-sekolah, dan sebagainya. Kedua, meniadakan keluhan dan memperjuangkan perubahan dalam bidang pemerintahan, peradilan , pendidikan umum, dan politik keagamaan pemerintahan. Ketiga, meniadakan keluh-kesah dalam bidang keuangan dan ekonomi. Dalam hal meniadakan keluhan, SI memainkan peranan “pra-Parlemen” sekian lama sebelum terdapat suatu perwakilan rakyat yang sejati di Indonesia, dan disinilah letak arti SI.
Dalam berbagai pikiran tentang emansipasi yang berlaku dalam kalangan SI dapat dibedakan unsur-unsur berikut:
- Penolakan akan bermacam-macam prasangka negatif terhadap golongan penduduk Indonesia dan perlakuan yang tidak sama antara bangsa Indonesia dan bukan bangsa Indonesia.
- Penghargaan yang positif terhadap identitas diri.
- Cita-cita penentuan nasib sendiri dalam politik.
- Anti kapitalisme.
Berbagai cara yang ditempuh pemimpin-pemimpin SI untuk menyadarkan rakyat bahwa sikap selalu merasa diri lebih rendah dan mengiakan segala-galanya itu salah. Mereka melakukan protes terhadap ucapan-ucapan diskriminasi dari orang Cina dan Eropa terhadap wakil golongan penduduk Indonesia. Mereka menantang terhadap tata cara penghormatan tradisional. Dalam pers dan pidato, mereka terus menekankan bahwa sekarang tidak masanya lagi orang Indonesia merasa lebih rendah berhadapan dengan setiap orang Eropa atau Cina yang ditemuinya. Bahwa sebutan wong cilik itu keliru karena manusia sama derajatnya di hadapan Tuhan. Mereka senantiasa mengungkapkan bahwa orang mempunyai hak memprotes dengan cara-cara yang layak terhadap kesewenang-wenangan yang resmi, dan bahwa orang tidak perlu takut dalam mempergunakan haknya. Mereka jelaskan kepada para petani gula bahwa mereka tidak wajib menyewakan tanahnya untuk jangka waktu yang lebih lama kepada pabrik.
Sarekat Islam telah menyadarkan lapisan-lapisan luas masyarakat Indonesia dari keterbelakangannya dan dari kenyataan orang tidak begitu saja harus pasrah. Beberapa contoh yang terjadi; seorang pegawai muda bernama Soemarsono, menolak merangkak di tanah untuk menghadap majikannya yang baru, asisten residen Karawang. Ia pun tampil dengan mengenakan pakaian Eropa, atau pada seorang wartawan Marco yang yang justru mengenakan pakaian Jawa bila ia pergi bersama-sama orang Eropa ke gedung kesenian karena ia tidak ingin mengingkari identitasnya. Di Surabaya, anggota-anggota SI membanggakan diri bahwa kini orang mempunyai residen sendiri. Di Surakarta, pemimpin-pemimpin di lingkungan SI menawarkan jasanya dengan sadar kepada para pejabat untuk mendampingi mereka dalam melakukan tugas kepolisian dan pemadam kebakaran. Para petani di daerah gula juga mulai meminta harga yang lebih tinggi untuk tanah mereka. Di perkebunan-perkebunan daerah Malang, kuli-kuli menjadi semakin keras sikapnya. Di tanah-tanah swasta sekitar Surabaya, orang bangkit melawan tuan-tuan tanah. Karyawan Maskapai Tram Semarang Juwana dan juga dari perusahaan-perusahaan lain di daerah Rembang, berusaha melakukan pekerjaan mereka lebih baik untuk menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dari ras-ras lainnya.
Sehubungan dengan harapan, para penganut gerakan SI yang tergolong masyarakat biasa memiliki hasrat akan masa depan yang lebih baik. Dalam hal ini muncul gejala “milenarisme”. Istilah ini mencakup berbagai macam gerakan yang revolusioner primitif yang acap kali muncul di kalangan bangsa atau golongan yang kurang berpendidikan. Penganut gerakan milenarisme percaya bahwa akan segera tiba masyarakat yang seluruhnya baru yang akan melenyapkan kekurangan. Kebanyakan gerakan milenaristis di Indonesia mesianistis sifatnya, yaitu orang percaya bahwa akan tercipta suatu negara bahagia oleh seorang juru selamat adikodrati atau mesias. Sang mesias dalam tradisi milenarisme Jawa adalah tokoh Ratu Adil.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 kadang-kadang orang dapat mengkonstatasi adanya gerakan milenaristis yang lebih primitif bergandengan dengan gerakan sosial yang modern. Di Indonesia pun terlihat perbauran ini muncul dalam gerakan SI yang pada dasarnya memperlihatkan sifat-sifat milenaristis yang kuat, walaupun ia merupakan gerakan yang modern dan rasional.
Harapan mesianistis dalam rangka SI tertuju pada Susuhunan Surakarta, juga terhadap Mangkunegara. Residen Surakarta menyatakan bahwa pada kongres SI di Surakarta (1913) tersebar desas-desus bahwa H. Samanhoedi bertindak sebagai utusan Susuhunan di sana. Hal yang sama pula terjadi dengan beredarnya cerita Tjokroaminoto di sekitar Sidoarjo, Surabaya. Pada saat mengadakan rapat umum di sana, banyak massa berdatangan memenuhi jalan dan alun-alun. Mereka bukan anggota SI, tetapi hanya peminat yang diperkirakan berjumlah puluhan ribu orang. Walaupun dilarang untuk berjabatan tangan dengan Tjokroaminoto, mereka tetap bersikeras berdesak-desakan demi bertemu dan melihat sang pemimpin. Dari segala jurusan, orang memegang Tjokroaminoto, mencium tangannya, bahunya, bahkan tepi jasnya. Selain itu SI cabang Sumenep di Madura menyebut Tjokroaminoto Whisnu kami, ini merupakan sebutan mesianistis yang jelas dimana tokoh mesias di Jawa sering dianggap sebagai penjelmaan salah satu dewa Hindu.
Pada umumnya reaksi sikap pemimpin SI menolak terhadap gejala milenarisme dalam gerakan tersebut. Tjokroaminoto sendiri tidak menerima peranan mesias yang diberikan kepadanya, namun ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi pengikutnya yang demikian. Dalam pidatonya pada kongres di Bandung, Tjokroaminoto berkata, “Walaupun hati kita penuh dengan harapan dan hasrat yang agung, tidak pernah kita bermimpi akan datangnya seorang Ratu Adil, atau keadaan-keadaan lain yang mustahil”.
Walaupun titik berat gerakan SI terletak di Jawa, SI merupakan gerakan emansipasi Indonesia yang pertama, yang merekrut anggota-anggotanya praktis dari seluruh Indonesia. Para pemimpin SI melakukan perjalanan keliling di Jawa dan luar Jawa untuk mencari cabang-cabang dan anggota. Hanya di beberapa bagian di kepulauan Indonesia SI tidak memperoleh pengikut yang berarti jumlahnya. Misalnya di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi, dan bagian lain di Indonesia Timur. Hal ini karena baru belakangan gerakan ini masuk ke sana.
Berbeda dengan SI, baik BO (Bodi Oetomo) maupun IP (Indische Partij) tidak dapat membanggakan diri mempunyai penganut yang berarti jumlahnya di luar Jawa. BO hanya membatasi radius kegiatannya pada penduduk Jawa dan Madura. Pada suatu kongres 1917 perkumpulan ini menolak sebuah usul untuk membuka keanggotaan bagi penduduk daerah lain dengan alasan bahwa memang terdapat persatuan di antara penduduk Jawa dan Madura tetapi tidak di seluruh Indonesia. Sedangkan IP pada prinsipnya terbuka bagi semua penduduk Indonesia tetapi seperti kita ketahui perkumpulan ini pada pokoknya tetap merupakan perkumpulan orang Indo-Eropa.
Memang, SI juga mengadakan pembatasan pada keanggotaan dengan mengizinkan perkumpulan hanya dimasuki oleh orang Islam, dalam prakteknya SI hanya mengecualikan golongan Kristen Indonesia, golongan yang dahulu dan sekarang hanya merupakan minoritas di Indonesia. Sebagin besar rakyat Indonesia, setidak-tidaknya dalam nama, adalah orang Islam. Bahwa mereka tidak saleh, hal itu tidak merupakan halangan untuk menjadi anggota SI.
Di samping hal tersebut, agama Islam bukan merupakan suatu faktor negatif yang mengesampingkan minoritas dan bukan sekadar agama nominal dari mayoritas rakyat Indonesia. Pertama, Islam adalah salah satu faktor yang dapat menjembatni perbedaan-perbedaan etnis di Indonesia. Kedua, Islam mempunyai muatan psikologis yang kuat, yang mempunyai daya tarik bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Terutama bagi banyak orang Indonesia, Islam berarti sisa terakhir kebebasan jiwa terhadap penjajah Belanda. Dengan hal itu dia memenuhi kebutuhan mereka akan harga diri. Atau seperti dinyatakan oleh Snouck Hurgronje, “kebanyakan bumiputra terikat pada agamanya sebagai salah sebuah barang yang hanya sedikit jumlahnya, yang boleh mereka anggap sebagai milik mereka yang tiada terjamah; Islam adalah yang terakhir yang masih mereka miliki setelah begitu banyak mereka dirampok oleh Belanda”.
Dengan memilih Islam sebagai identitasnya, SI memastikan diri menjadi sarana yang ampuh dalam cita-citanya menuju emansipasi, dan dalam usahanya di sini untuk menarik sebanyak mungkin orang Indonesia dari berbagai kepulauan. Dan mengingat keberhasilannya dapatlah kita menganggap SI sebagai gerakan yang telah memberikan sumbangan penting bagi penyatuan Indonesia.


